Sains, Qur’ann dan Kesenjangan

•14/05/2011 • Leave a Comment

Mereka pemuda necis, duduk di sebuah kafe dengan arsitektur postmodernisme. Music jazz berdegup anggun sementara sajian kopi dari mesin blender otomatis mencemari udara dengan bau harum pegunungan. Masing-masing pemuda itu terpekur di depan laptop yang terhubung lewat akses point gelombang radio, menuju internet global. Di luar mereka, di bawah tanah mungkin sedang menderu mesin kereta subway menembus berbagai tempat dengan kecepatan yang tak pernah terpikir oleh manusia abad pertengahan.

Itulah dunia kita saat ini. Ia telah bergeser dari keterbatasan menjadi kelapangan. Berbagai penemuan dan loncatan pemikiran yang hadir berulang setiap hari membuat hidup manusia menjadi semakin mudah. Semua itu tidak bisa terlepas dari pergulatan dalam diri manusia yang kemudian hadir sebagai ilmu – ilmu pengetahuan, sains, mengawali jawaban manusia terhadap pertanyaan sekaligus misteri alam.

Rasa ingin tahu akan sebab-sebab – begitu kata William Hazlit, yang berujung pada pemahaman, membawa manusia untuk memuaskan kehendaknya; mengatur alam. Manusia bisa mengenal dan kemudian mengendalikan alam dengan sains, ialah yang merubah wajah dunia menjadi begitu maju seperti saat ini.

Setidaknya, kemajuan itulah yang dipercayai manusia. Karena kemajuan sains adalah kemajuan seluruh langkah hidup manusia, yang tampak maupun tidak. Edison yang menemukan lampu dan menjadikan dunia malam terang benderang, mungkin tak sadar bahwa ia juga telah merubah struktur sosial dan interaksi manusia di malam hari.

James Watt yang menemukan mesin uap juga mungkin bermimpi bahwa ia telah mendefinisikan kembali arti buruh dan merintis revolusi industri. Begitu pula Neils Bohr, dan para pemikir fisika abad ke-20, mungkin tak terpikir untuk memberi sumbangan pada apa yang dinamakan perang dingin dan sentimen senjata nuklir di abad ke-21. Sains menentukan kemajuan tidak hanya pada sisi teknologi dan ekonomi – yang memang sangat berpokok padanya, namun juga kepada segala cabang kebudayaan manusia.

Dari hukum sampai ke seni, dari kehidupan kekeluargaan sampai cara menjalankan agama, dari kedudukan perempuan sampai ke politik internasional, dari pendidikan sampai ke perawatan kesehatan jasmani rohani, manusia sangat terpengaruh sains, karena ia membawa apa yang dinamakan dengan kemajuan.

Kemajuan itu, yang dapat disetir melalui sains, yang kemudian mengarah kepada suatu bentuk sistem kehidupan, apakah baik atau buruk. Kemajuan sains yang sejak momentum renaisans Eropa disetir oleh peradaban barat juga telah menyetir peradaban dunia – pada banyak aspek – menuju sebuah arah tertentu. Meskipun ia menamai diri sebagai kemajuan ideal, pada hakikatnya ia tidak dapat kita maknai sebagai kemajuan secara telanjang, karena ia juga membawa antikutub dari kemajuan yang tidak selalu murni dari keberpihakan.

Seperti Palestina yang tak pernah selesai dari konflik, atau Irak, atau Afganistan, yang dikompori oleh gembong besar kemajuan sains, Amerika dan Eropa – juga israel. Apakah kemajuan sains membawa kemajuan kemanusiaan? Kita menjadi bertanya-tanya. Begitu pula kemiskinan, yang banyak melanda negara dunia ketiga, yang ternyata mayoritas adalah negara muslim. Mungkinkah sains dimanfaatkan sebagai pupuk yang menyuburkan ekonomi negara tertentu dan memiskinkan negara tertentu?

Fakta lain, bahwa sains membawa perubahan pada pola hidup manusia yang jauh dari kemanusiaan adalah hal yang layak diperhatikan. Anak tak lagi asing dengan kekerasan video games, orang dewasa lebih suka pornografi, perang dengan senjata dan teknologi canggih, mungkin adalah bagian kecil dari kompleksitas apa yang dinamakan dengan kemajuan itu – jika tidak ingin menyebutnya dengan efek samping. Belum lagi kengerian dan ketakutan akan perang modern yang merupakan konflik kemanusiaan yang maha dahsyat, berbagai bencana ekologis yang diakibatkan oleh aplikasi sains modern berikut keterasingan manusia dari alam, dan dirinya sendiri yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Dan lagi, sains modern juga mencoba mematikan agama, seperti ucapan Oscar Wilde di akhir abad 19 “Science is the record of dead religions”, tampak demikian jelas bahwa memang ada keberpihakan pada pemisahan antara agama dan dunia. Bahwa dengan sains anda tak membutuhkan lagi agama. Sehingga kita patut bertanya tentang ke arah mana sebenarnya sains modern menuju.

Dalam Qur’an, pernyataan tentang arah kemajuan itu telah disinggung sebagai sebuah orientasi materil. Dan bahwa keterangan selenjutnya yang kita dapat adalah: segala yang disandarkan pada materi pasti akan musnah. (Bagi mereka) kesenangan (sementara) di dunia, kemudian kepada Kami-lah mereka kembali, kemudian Kami rasakan kepada mereka siksa yang berat, disebabkan kekafiran mereka. (10:70).

Menelisik akar filsafatnya, sains modern – begitu pula peradaban barat modern, memang telah lahir dengan perangkat sekulerisme yang tak pernah memberikan peluang sedikitpun pada dunia trans-empirik. Dalam pemahaman paling dasarnya tentang wujud (ontology), pemikiran barat modern jelas membatasi dirinya dengan dunia empiris saja. Baginya, yang tampak dan diserap oleh panca indera itulah yang wujud. Di luar itu tak disebut wujud, tapi ilusi belaka.

Sementara yang ilusi itu pada Islam disebut sebagai kemurnian iman dan hidayah. Dalam Islam, ontologi tidak sekedar yang tampak dan dapat dicerap oleh alam empiris, tapi lebih dari itu. Ada “the ultimate reality” di balik yang empirik ini. Hakekat mutlak mendasari alam zahir. Yang wujud itu tidak sekedar fisik, tapi transfisik atau metafisik. Alam fisik ini hanya pengejewantahan ‘af’al sifat-sifat Allah yang metafisik. Oleh karena itu, Allah Swt. Itu absolut, dan alam ini sebaliknya. Allah pencipta dan alam ciptaannya. Allah kekal dan alam tidak kekal.

Dari titik ini, jika pemahaman yang dibangun memang demikian, seharusnya kita melihat pada dunia Islam teknologi dan sains berkembang dengan harmoni. Dan sepertinya kita akan kecewa karena melihat Islam hari ini malah babak belur dihajar sains dan teknologi. Harmoni ilmu pengetahuan itu hanya telah terjadi berabad lalu di struktur geopolitik yang hampir menjamah seluruh dunia: Cina, India, Mesir, Persia, Eropa.

Mengingatnya, hanya akan seperti nostalgia. Sebagaimana dipaparkan selama berabad-abad kegemilangan Islam sejak kurun masa Jabir ibn Hayyan hingga Suhrawardi- berbagai macam sains telah dikembangkan, sementara sains-sains matematika dan fisika dikaji dan ditelaah ditengah-tengah tumpukan sains simbolis dan di bawah prinsip-prinsip metafisika dan kosmologi yang diperoleh dari wahyu Al Qur’an.

Landasan ini, yang menjadikan peradaban Islam – kala itu – kokoh dalam kemajuannya, tidak timpang, dan selalu berorientasi pada kemaslahatan dunia-akhirat.

Sayangnya kali ini tidak lagi. Jika di pertengahan abad 20 Einstein bicara “Science without religion is lame. Religion without science is blind” sesungguhnya ia sedang membicarakan Islam. Islam yang seharusnya mampu membuat integrasi antara rasio dan wahyu menjadi kelahiran budaya yang agung, dan itulah yang diinginkan.

Einstein – dan mungkin juga banyak orang kala itu – khawatir akan suatu bahaya karena kesenjangan agama dan sains, seperti mengatakan bahwa sains dan agama sama-sama dibutuhkan manusia untuk menuju kemajuan yang dimaksud tadi. Kita boleh saja menduga, namun mungkin itu hanya sepenggal mimpi yang tak pernah terwujud jika nyatanya dunia hari ini tidak disetir oleh kemajuan sains Islam, namun oleh sains modern yang empiric holic dan anti wahyu.

Peradaban Islam yang berpusat pada Qur’an, yang bersandar pada ajaran Rasulullah Muhammad yang murni dan membawa ajaran tauhid seperti juga yang diajarkan para rasul pendahulu tidak berada pada poros kerjanya.

Tampaknya seperti yang dibilang Sutan Takdir Alisyahbana, Al Qur’an dan sains saat ini senjang dan berjarak sehingga masing-masing hidup dalam keterasingannya. Sains pada kepuasan kehendak, sementara Qur’an pada mereka dengan keterbatasan dan penindasan akal. Islam – dengan struktur ide dan semangatnya – seharusnya mewarnai kehidupan umat manusia hari ini, bukan.

Mungkin itu pula yang ada di benak anda, atau siapapun yang juga berfikir demikian. Tapi itu hanya menjadi nostalgia jika tidak ada langkah untuk mengkonduksi keduanya. Menjadi pertanyaan adalah apakah Islam sudah kembali menjamah ilmu pengetahuan untuk dieksploitasi dan dielaborasi sehingga terjadi titik equilibrium antara keimanan dengan realita, antara wahyu dengan akal, seperti pada logika awal Islam tentang ontology, tentang kosmologi.

Apakah Islam telah menjadi nafas gerak yang membentuk peradaban ilmu (kembali), yang kemudian melahirkan peradaban yang adil secara rasional maupun spiritual? Inilah pertanyaan kita bersama. Inilah pergulatan abadi manusia, antara pengabdian pada Dzat Yang Hakiki dan keinginan untuk melakukan sesuai kehendak diri sendiri tanpa batas.

Kesenjangan antara sains dan Al Qur’an ini yang menjadi koreksi pada kehidupan keIslaman muslimin hari ini. Euforia sains dan cengkeram kebudayaan barat membuat manusia muslim kehilangan semangat keIslamannya dan menggodam habis ketulusan hati untuk tunduk pada ilahi.

Sehingga kebudayaan sains yang lahir dan peradaban yang dibangun adalah peradaban yang jauh dari nilai keadilan sesuai dengan kebenaran hakiki. Keadilan yang dilahirkan adalah keadilan semu, kemanusiaan yang diwujudkan adalah kemanusiaan komersil, bahkan persahabatan yang tersemat adalah persahabatan pragmatis. Jika sains hari ini menjauh dari Qur’an, jika bangunan Islam yang kokoh dengan keilmuannya hancur lebur, siapakah yang hendak menyelamatkannya?
Continue reading ‘Sains, Qur’ann dan Kesenjangan’

ILMU DAN TEKNOLOGI DALAM AL-QURAN

•08/05/2011 • Leave a Comment

This slideshow requires JavaScript.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, teknologi diartikan
sebagai “kemampuan teknik yang berlandaskan pengetahuan ilmu
eksakta dan berdasarkan proses teknis.” Teknologi adalah ilmu
tentang cara menerapkan sains untuk memanfaatkan alam bagi
kesejahteraan dan kenyamanan manusia.

Kalau demikian, mesin atau alat canggih yang dipergunakan
manusia bukanlah teknologi, walaupun secara umum alat-alat
tersebut sering diasosiasikan sebagai teknologi. Mesin telah
dipergunakan oleh manusia sejak berabad yang lalu, namun abad
tersebut belum dinamakan era teknologi.

Menelusuri pandangan Al-Quran tentang teknologi, mengundang
kita menengok sekian banyak ayat Al-Quran yang berbicara
tentang alam raya. Menurut sebagian ulama, terdapat sekitar
750 ayat Al-Quran yang berbicara tentang alam materi dan
fenomenanya, dan yang memerintahkan manusia untuk mengetahui
dan memanfaatkan alam ini. Secara tegas dan berulang-ulang
Al-Quran menyatakan bahwa alam raya diciptakan dan ditundukkan
Allah untuk manusia.

Dan dia menundukkan untuk kamu apa yang ada di langit
dan apa yang ada di bumi semuanya (sebagai anugerah)
dari-Nya (QS Al-Jatsiyah [45]: 13).

Penundukan tersebut –secara potensial– terlaksana melalui
hukum-hukum alam yang ditetapkan Allah dan kemampuan yang
dianugerahkan-Nya kepada manusia. Al-Quran menjelaskan
sebagian dari ciri tersebut, antara lain:

(a) Segala sesuatu di alam raya ini memiliki ciri dan
hukum-hukumnya.

Segala sesuatu di sisi-Nya memiliki ukuran (QS
Al-Ra’d [13]: 8)

Matahari dan bulan yang beredar dan memancarkan sinar, hingga
rumput yang hijau subur atau layu dan kering, semuanya telah
ditetapkan oleh Allah sesuai ukuran dan hukum-hukumnya.
Demikian antara lain dijelaskan oleh Al-Quran surat Ya Sin
ayat 38 dan Sabihisma ayat 2-3

(b) Semua yang berada di alam raya ini tunduk kepada-Nya:

Hanya kepada Allah-lah tunduk segala yang di 1angit
dan di bumi secara sukarela atau terpaksa (QS Al-Ra’d
[13]: 15).

(c) Benda-benda alam –apalagi yang tidak bernyawa– tidak
diberi kemampuan memilih, tetapi sepenuhnya tunduk kepada
Allah melalui hukum-hukum-Nya.

Kemudian Dia menuju kepada penciptaan langit dan
langit yang ketika itu masih merupakan asap, lalu Dia
(Allah) berkata kepada-Nya, “Datanglah (Tunduklah)
kamu berdua (langit dan bumi) menurut perintah-Ku
suka atau tidak suka!” Mereka berdua berkata, “Kami
datang dengan suka hati” (QS Fushshilat: ll).

Di sisi lain, manusia diberi kemampuan untuk mengetahui ciri
dan hukum-hukum yang berkaitan dengan alam raya, sebagaõmana
diinformasikan oleh firman-Nya dalam Al-Quran surat Al-Baqarah
ayat 31,

Allah mengajarkan Adam nama-nama semuanya

Yang dimaksud nama-nama pada ayat tersebut adalah sifat, ciri,
dan hukum sesuatu. Ini berarti manusia berpotensi mengetahui
rahasia alam raya.

Adanya potensi itu, dan tersedianya lahan yang diciptakan
Allah, serta ketidakmampuan alam raya membangkang terhadap
perintah dan hukum-hukum Tuhan, menjadikan ilmuwan dapat
memperoleh kepastian mengenai hukum-hukum alam. Karenanya,
semua itu mengantarkan manusia berpotensi untuk memanfaatkan
alam yang telah ditundukkan Tuhan. Keberhasilan memanfatkan
alam itu merupakan buah teknologi.

Al-Quran memuji sekelompok manusia yang dinamainya ulil albab.
Ciri mereka antara lain disebutkan dalam surat Ali-’Imran (3)
190-191:

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan
silih bergantinya malam dan siang terdapat
tanda-tanda bagi ulil albab. Yaitu mereka yang
berzikir (mengingat) Allah sambil berdiri, atau duduk
atau berbaring, dan mereka yang berpikir tentang
kejadian langit dan bumi …

Dalam ayat-ayat di atas tergambar dua ciri pokok ulil albab,
yaitu tafakkur dan dzikir. Kemudian keduanya menghasilkan
natijah yang diuraikan pada ayat 195:

Maka Tuhan mereka memperkenankan permohonan mereka
dengan berfirman, “Sesungguhnya Aku tidak
menyia-nyiakan amal yang beramal di antara kamu, baik
lelaki maupun perempuan …”

Natijah bukanlah sekadar ide-ide yang tersusun dalam benak,
melainkan melampauinya sampai kepada pengamalan dan
pemanfaatannya dalam kehidupan sehari-hari.

Muhammad Quthb dalam bukunya Manhaj At-Tarbiyah Al-Islamiyah
mengomentari ayat Ali ‘Imran tadi sebagai berikut:

[tulisan Arab]

Maksudnya adalah bahwa ayat-ayat tersebut merupakan metode
yang sempurna bagi penalaran dan pengamatan Islam terhadap
alam. Ayat-ayat itu mengarahkan akal manusia kepada fungsi
pertama di antara sekian banyak fungsinya, yakni mempelajari
ayat-ayat Tuhan yang tersaji di alam raya ini. Ayat-ayat
tersebut bermula dengan tafakur dan berakhir dengan ama1

Lebih jauh dapat ditambahkan bahwa “Khalq As-samawat wal Ardh”
di samping berarti membuka tabir sejarah penciptaan langit dan
bumi, juga bermakna “memikirkan tentang sistem tata kerja alam
semesta”. Karena kata khalq selain berarti “penciptaan”, juga
berarti “pengaturan dan pengukuran yang cermat”. Pengetahuan
tentang hal terakhir ini mengantarkan ilmuwan kepada
rahasia-rahasia alam, dan pada gilirannya mengantarkan kepada
penciptaan teknologi yang menghasilkan kemudahan dan manfaat
bagi umat manusia.

Jadi, dapatkah dikatakan bahwa teknologi merupakan sesuatu
yang dianjurkan oleh Al-Quran?

Sebelum menjawab pertanyaan itu, ada dua catatan yang perlu
diperhatikan.

Pertama, ketika Al-Quran berbicara tentang alam raya dan
fenomenanya, terlihat secara jelas bahwa pembicaraannya selalu
dikaitkan dengan kebesaran dan kekuasaan Allah Swt.

Perhatikan misalnya uraian Al-Quran tentang kejadian alam:

Apakah orang-orang kafir tidak mengetahui bahwa
langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah satu yang
padu, kemudian Kami (Allah) pisahkan keduanya, dan
dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka
mengapa mereka tidak juga beriman? (QS Al-Anbiya’
[21]: 30).

Ayat ini dipahami oleh banyak ulama kontemporer sebagai
isyarat tentang teori Big Bang (Ledakan Besar), yang mengawali
terciptanya langit dan bumi. Para pakar boleh saja berbeda
pendapat tentang makna ayat tersebut, atau mengenai proses
terjadinya pemisahan langit dan bumi. Yang pasti, ketika
Al-Quran berbicara tentang hal itu, dikaitkannya dengan
kekuasaan dan kebesaran Allah; serta keharusan beriman
pada-Nya.

Pada saat mengisyaratkan pergeseran gunung-gunung dari
posisinya, sebagaimana kemudian dibuktikan para ilmuwan
informasi itu dikaitkan dengan Kemahahebatan Allah Swt.: ~

Kamu lihat gunung-gunung, yang kamu sangka tetap di
tempatnya, padahal berjalan sebagaimana halnya awan.
Begitulah perbuatan Allah, yang membuat dengan kokoh
tiap-tiap sesuatu. Sesungguhnya Allah mengetahui apa
yang kamu kerjakan (QS Al-Naml [27]: 88).

Ini berarti bahwa sains dan hasil-hasilnya harus selalu
mengingatkan manusia terhadap Kehadiran dan Kemahakuasaan
Allah Swt., selain juga harus memberi manfaat bagi
kemanusiaan, sesuai dengan prinsip bismi Rabbik.

Kedua, Al-Quran sejak dini memperkenalkan istilah sakhkhara
yang maknanya bermuara kepada “kemampuan meraih –dengan mudah
dan sebanyak yang dibutuhkan– segala sesuatu yang dapat
dimanfaatkan dari alam raya melalui keahlian di bidang
teknik”.

Ketika Al-Quran memilih kata sakhhara yang arti harfiahnya
menundukkan atau merendahkan, maksudnya adalah agar alam raya
dengan segala manfaat yang dapat diraih darinya harus tunduk
dan dianggap sebagai sesuatu yang posisinya berada di bawah
manusia. Bukankah manusia diciptakcan oleh Allah sebagai
khalifah? Tidaklah wajar seorang khalifah tunduk dan
merendahkan diri kepada sesuatu yang telah ditundukkan Allah
kepadanya. Jika khalifah tunduk atau ditundukkan oleh alam.
maka ketundukan itu tidak sejalan dengan maksud Allah Swt.

Di atas telah dikemukakan bahwa penundukan Allah terhadap alam
raya bersama potensi yang dimiliki manusia –bila digunakan
secara baik– akan membuahkan teknologi.

Continue reading ‘ILMU DAN TEKNOLOGI DALAM AL-QURAN’

Kepelikan-kepelikan Saintifik di dalam al-Quran dan Hadits

•08/05/2011 • Leave a Comment

Untuk mempercayai al-Quran adalah untuk menjadi tidak rasional dan mengabaikan kewarasan fikiran anda. Terdapat banyak mitos-mitos dan kesilapan-kesilapan Saintifik di dalam Al-Quran. Tetapi kebanyakan penganut Islam menerima ajaran-ajaran ini secara membuta sahaja. Dunia saintifik telah mengorak banyak langkah mencapai tahap pemikiran yang matang serta tinggalkan banyak pantang-larang serta sikap kebutaan dan ketakutan hasil daripada tamadun primitif budaya-budaya yang lalu. Malangnya, kerana nas al-Quran disanjung tinggi secara membuta dan tanpa disoal-siasat, maka terdapatlah banyak perkara di dalamnya yang ketinggalan zaman, amat pelik dan tidak tepat jika dibandingkan dengan kebenaran.

Sebagai permulaan, saya akan mengambil contoh daripada budaya Hindu. Menurut tradisi mereka, suatu hari, dewa Siva telah meninggalkan isterinya di rumahnya, isterinya pula telah mengambil kulit sendiri dan menjadikan seorang anak daripada kulit itu. Anaknya merupakan pelindung baginya dan juga rumahnya. Apabila Siva kembali ke rumahnya, anak itu telah dibunuhnya kerana dia telah menghalang Siva daripada memasuki rumahnya sendiri. Jadi, isteri Siva pun menjadi amat marah, dan Siva telah keluar dan memancung kepala seekor gajah dan mencantumkannya dengan tubuh anak yang telah dibunuhnya itu. Itulah sebabnya kenapa dewa Hindu Ganesh mempunyai tubuh seorang manusia tetapi berkepala gajah!

Adakah mana-mana orang Muslim yang mempercayai cerita ini ? Tentu Tidak! Ini adalah satu mitos, satu cerita dongeng yang tidak masuk akal dan tidak benar. Mitos ini telah direka oleh suatu budaya primitif. Jika amat mudah untuk menanggap mitos ini sebagai satu dongeng, umat Islam sendiri amatlah malang kerana mereka membuta kepada dongeng-dongeng di dalam nas Kitab Suci mereka sendiri. Marilah kita melihat beberapa contoh-contoh kesilapan-kesilapan Sains dan kesilapan fakta-fakta yang terdapat di dalam Al-Quran.

3 ] Cerita Pertuturan yang Sempurna Hazrat Isa Almasih semasa Baginda Seorang Bayi

Dalam Surah 19 ayat 29 -33, Al-Quran memberitahu bahawa Isa sebagai seorang bayi telah berbicara dengan sempurna dengan ibunya Maryam semasa dalam buaian. Kita semua tahu bahawa peristiwa ini tidak terjadi – menurut catatan dan rekod dalam Kitab Injil. Sebaliknya, seorang kanak-kanak seperti Hazrat Isa terlebih dahulu telah belajar bertutur dan berucap dengan betul, sebelum baginda boleh berbicara apa-apa dengan ibu-bapanya. Sebaliknya, catatan Al-Quran itu diambil daripada satu lagenda, satu mitos yang telah diterima oleh nabi Muhammad lalu diletakkannya ke dalam Al-Quran.

Lain-lain Kepelikan Sains di dalam al-Quran dan Hadith

4 ] Pokok dan Batu yang Bercakap

Hadith Sahih Muslim, Kitab 40, Nombor 6985:

Abu Hurairah telah Melapurkan :

Rasulullah (saw) berkata : ‘Hari Kiamat tidak akan tiba sehingga para Muslim berperang dengan umat Yahudi. Umat Muslim akan membunuh orang-orang Yahudi sehingga mereka akan menyembunyikan diri disebalik batu atau pokok. Maka batu atau pokok itu akan berkata-kata : “Hai Muslim atau hamba Allah, ada seorang Yahudi disebalik saya. Marilah dan bunuh dia.” Tetapi Pokok Gharqad tidak akan berkata apa-apa, kerana ia adalah pokok bangsa Yahudi.’

Seorang yang berfikiran waras dengan mudah dapat mengenepikan Hadith ini sebagai karut! Jelaslah ia miliki banyak kesilapan. Mula-mula, cerita pokok dan batu yang bercakap-cakap berpunca daripada sumber cerita dongeng dan mitos. Bagi sepohon pokok atau seketul batu untuk berbicara atau cakap, ia memerlukan otak, paru-paru, kotak suara dan lidah; disamping pemahaman Bahasa yang dituturkannya ! Lebih teruk lagi kekarutannya ialah : sepohon pokok yang bernama ‘Gharqad’ yang akan memihak kepada umat Yahudi !

5 ] Awan yang Bercakap

Tidak mencukupi dengan ide-ide janggal seperti pepohon dan batu-batan bercakap, al-Quran juga mengajari tentang awan yang bercakap. “Allah berkata kepada langit dan bumi : Datanglah kamu berdua, baik dengan patuh atau dengan terpaksa. Sahut keduanya, ‘kami datang dengan patuh’.” Surah 41 ayat 11. Ramai pembaca-pembaca tidak mengindahkan ayat ini, tetapi apabila kita mengkajikanya lebih lanjut, ia menimbulkan banyak lagi soalan yang sukar dijawab. Seperti: Bilakah wap air itu memiliki kesedaran? Adakah molikul air itu benda yang hidup? Dengan dua atom hidrojen dan satu atom oksigen; di manakah letaknya otaknya dan mana pula mulutnya ?

Cerita tentang benda-benda yang tidak hidup, tetapi beraksi seolah-olah organisma hidup, banyak terdapat dalam al-Quran. Ada cerita gunung-ganang yang takut (surah 33:72). Ketakutan, suatu emosi yang terhasil daripada reaksi kimia di dalam otak. Apakah Gunung-ganang, dicipta daripada batu, pasir dan debu mempunyai otak dimana reaksi-reaksi kimia ini berlaku ?

6 ] Tempat Matahari Terbenam “di Bumi”

Al-Quran dengan kata-kata yang jelas menyatakan bahawa seorang hamba Tuhan telah melihat Matahari terbenam ke dalam suatu ‘mata air yang berlumpur hitam’ dan di situ pula dia terjumpa dengan sekumpulan manusia. Ayatnya seperti berikut:

“Sehingga, apabila dia sampai di tempat terbenam Matahari, didapatinya matahari itu terbenam dalam mata air yang berlumpur hitam. Di sana didapatinya satu kaum. Kami berkata : Hai, Zulkarnain, adakalanya engkau siksa (kaum yang kafir itu) atau engkau perlihatkan kepada mereka kebaikan…”

Surah al-Kahfi 18 ayat 86

Adakah Matahari itu sebenarnya terbenam kedalam sebuah mata air yang berlumpur hitam? Menurut nas al-Quran di atas, begitulah hakikatnya.

Ini merupakan satu kesilapan sains dan kekarutan yang besar dalam al-Quran. Seorang manusia berjalan-jalan di bumi sehingga terjumpa dengan tempatnya Matahari terbenam-sebuah mata air yang berlumpur ! Menurut Sains serta ilmiah moden, Bumi yang berputar mengelilingi Matahari. Nas Quran di atas pula mengajar pertentangannya, bahawa matahari yang berputar, sehingga ia terbenam di Bumi! Jikalau Matahari bersentuhan dengan muka bumi ini, segala-galanya di bumi akan hangus terbakar! Juga, semua kehidupan yang ada akan mati serta-merta. Inilah satu lagi contoh jelas di mana terdapat ajaran-ajaran di dalam al-Quran yang tidak benar sama sekali dan tidak memihak kepada kebenaran.

7 ] Jin adalah Pemberita-pemberita Maklumat dari Syurga ! Dan Bintang-bintang boleh melempari mereka…

Satu lagi kepelikan ialah makhluk dalam Quran yang disebut sebagai jin. Umat Islam percaya bahawa jin-jin ini berdiri di atas bahu masing-masing sehingga mencapai menjangkau Syurga. Dari sana, mereka dapat mendengari perbincangan yang sedang diadakan. Ada Hadis yang dikisahkan oleh Aisha (Sahih Bukhari Jilid 9, Kitab 93, Nombor 650) yang mengatakan para dukun dan bomoh menerima sebahagian maklumat mereka dari Jin yang secara sembunyi-sembunyi mendapatkan maklumat mereka dengan memasang telinga mereka di ambang Syurga!

Surah 37 ay.6-8 berkata :
“Sesungguhnya Kami menghiasi langit yang hampir kedunia dengan perhiasan bintang-bintang. Dan untuk memeliharakan daripada tiap-tiap syetan yang durhaka. Mereka tidak dapat mendengar ke alam yang Mahatinggi, dan mereka dilempari dari tiap-tiap penjuru..”

Quran juga mengajari bahawa bintang-bintang diciptakan untuk melempari syetan-syetan supaya mereka tidak dapat mendengar apa yang dibincangkan di syurga. (Surah 67/5).

Pertamanya, jika Jin boleh menjangkau syurgawi dengan berdiri di atas bahu jin-jin lain, ertinya Syurga itu adalah pada jarak yang tetap dari Bumi. Jika ini benar, pada suatu hari nanti kita boleh terbang ke Syurga dengan menduduki pesawat space shuttle, atau melihatkannya melalui teropong teleskop! Lebih teruk lagi adalah kekarutan yang diajari, bahawa bintang dan tahi bintang boleh dijadikan lembing-lembing untuk melempari jin-jin itu! Pada hakikatnya, bintang-bintang tidak boleh bergerak, tetapi orang-orang Arab pada abad ke-7 tahun Masehi buta sains dan juga buta astronomi, dalam kejahilan mereka telah kelirukan tahi bintang dengan bintang-bintang. Penulis-penulis al-Quran dan Hadis telah mengelirukan ‘tahi bintang’ dengan bintang, dan mempelopori ajaran salah itu dalam Surah 37, 67 dsb, walhal mereka adalah dua hakikat yang berlainan.

8 ] Manusia Dapat Memahami Bahasa-bahasa Serangga dan Binatang-binatang

Menurut Quran, seorang manusia telah dapat memahami bahasa binatang-binatang. Kata surah 27/18-19 :

“Sehingga apabila mereka sampai kelembah semut, lalu berkata raja semut: ‘Hai sekalian semut, masuklah kamu kedalam rumahmu, supaya kamu tidak dihancurkan oleh Sulaiman dan tenteranya’…Lalu Sulaiman tersenyum serta tertawa, kerana mendengarkan perkataannya …”

Walaupun pakar-pakar Zooloji telah berusaha mencari kaedah-kaedah serta cara berkomunikasi dengan beruk dan ungka, tidak ada mana-mana manusia yang telah dapat memahami “bahasa” spesies makhluk lain selain daripada spesies manusia. Kebolehan untuk berbicara seperti seorang manusia dicapai oleh pembentukan otak yang unggul dengan corak pemikirannya yang kompleks. Corak pemikiran kompleks ini tidak dimiliki oleh kebanyakan haiwan-haiwan yang lain. Jadi, untuk mengajar bahawa manusia dapat memahami “percakapan makhluk/haiwan spesies lain” adalah amat tidak masuk akal sekali!

Lebih teruk lagi kekarutan yang dianjurkan oleh Qu’ran bila ia kata manusia ini boleh memahami ‘bahasa semut’! Adalah satu hakikat saintifik bahawa semut tidak mempunyai corak percakapan. Mereka berkomunikasi dengan mengesan jejak-jejak kimia, serta cara-cara penghiduan dan pembauan atau penyentuhan yang lain. Jadi semut sebenarnya berkomunikasi melalui penghiduan dan BUKAN gelombang-gelombang bunyi. Di gurun yang gersang tanah Arab pada abad ke-7 Tahun Masehi, kejahilan ini telah menyebabkan ajaran janggal yang tidak masuk akal diatas! Justru itu, kejahilan mengenai dunia haiwan ini juga membuktikan gubahan teks Kitab ini di tangan manusia sebenarnya, dan sekaligus memustahilkan teori sumber ilahi bagi Kitab tersebut. Tuhan Allah, yang Maha mengetahui, sudah tentu tidak akan melakukan kesilapan fakta-fakta seperti di atas ini.

9 ] Bulan dan Bintang adalah Lampu-lampu dan Pelita

Qu’ran menyebutkan bahwa Allah telah menciptakan langit bertingkat-tingkat atau berlapis-lapis. Dia menciptakan tujuh langit, dan menghiasi langit yang terendah dengan pelita (Surah 67:3-5) dan memperindahnya dengan perhiasan bintang-bintang (Surah 37:6). Qur’an juga mengatakan bahwa bulan berada di dalam ketujuh langit ini (Surah 71:15-16). Jika bintang-bintang (lampu-lampu) berada di langit yang terendah, mereka adalah lebih dekat ke bumi berbanding dengan bulan, atau sekurang-kurangnya memiliki jarak yang sama terhadap bumi sebagaimana bulan. Kedua-duanya hujah ini secara ilmiah adalah salah dan tidak benar sama sekali. Adalah suatu kenyataan yang sudah diketahui ilmu Sains bahwa bintang-bintang berada di jarak lebih jauh lagi daripada Bumi, jika berbanding dengan jarak bulan dari Bumi.

10 ] Binatang Seperti Monyet Islam Harus Direjam Seperti Manusia

Hadith berikut ini berbicara tentang para monyet yang kononnya adalah Muslim:

Hadith Sahih Bukhari Jilid 5, Kitab 58, Nombor 188:
Disampaikan oleh ‘Amr bin Maimun:

“Pada zaman jahiliyah sebelum Islam saya menyaksikan seekor monyet betina dikelilingi oleh sejumlah monyet-monyet lain. Mereka semua melemparinya dengan batu, kerana monyet betina itu telah melakukan perzinahan. Saya pun, ikut melempari batu bersama mereka.”

Ini adalah syariat dalam Islam bahwa wanita yang melakukan perzinahan mestilah direjam (dilempari batu). Menurut Hadis Sahih Bukhari di atas para monyet juga dikenai hukum ini. Hukum-hukum syariah apa lagi yang wajib diikuti oleh para monyet? Apakah mereka juga diwajibkan untuk melakukan ziarah ke Mekah? Apakah mereka diwajibkan membaca Qu’ran? Apa yang merupakan perzinahan dalam dunia monyet? Sebenarnya, ini hanyalah cerita dongeng semata-mata. Ia mirip dengan cerita yang terdapat dalam Ramayana, suatu syair dan epik kepahlawanan Hindu kuno, yang berkisah tentang monyet Hanuman, dan bangsanya, bertarung untuk menguasai kerajaan monyet.

11 ] Kebolehan Wanita dan Anjing Untuk Membatalkan Solat

Terdapat Hadith Sahih Bukhari – Jilid 1, Kitab 9, Nombor 490 menyatakan bahawa Jika seorang wanita atau pun seekor anjing berlalu di depan kamu semasa kamu menjalankan doa dan solat anda, doa-doa itu tidak akan sampai ke Syurga! Implikasi Hadis ini berbau dengan chauvinisma terhadap wanita dan binatang. Lebih-lebih lagi, aspek saintifiknya juga cukup janggal dan amat mencurigakan serta tidak benar. Apakah dalam kuasa Wanita atau haiwan seperti Anjing yang boleh membatalkan doa ?? Adakah doa para Muslim dibawa oleh sejenis gelombang sonik yang boleh diganggu dan dibatalkan oleh wanita DAN anjing khususnya ?? Amat jelaslah tiada bukti saintifik langsung bagi mitos dan kekarutan hadith ini! Tidaklah heran, kerana terdapat banyak rujukan hadith lain yang menyatakan anjing itu ‘jahat’ dan harus dibunuh. HSB jilid 4, kitab 54 bernombor 540 berkata “Rasulullah perintahkan supaya anjing-anjing itu harus dibunuh.”

12 ] Arahan-arahan yang Tidak Seimbang bagi Binatang-binatang

Apabila sampai kepada pembunuhan binatang, berlaku hukum-hukum yang macam-macam bagi jenis-jenis haiwan yang berbeda. Anjing harus dibunuh serta-merta, tetapi seekor ular diberikan peringatan kali pertama secara lisan jika datang ke rumah kamu. Jika ular itu datang untuk kedua kalinya, maka bunuhnya(Sunan Abu Dawud Kitab 41,Nombor 5240)! Terdapat hal yang menarik berkenaan dengan Hadith ini. Hari ini, melalui ilmu Sains kita mengetahui HAKIKAT bahwa seekor ular tidak dapat mendengar. Adalah cukup buruk dan janggal untuk menganggap bahwa binatang apapun akan memahami bahasa lisan manusia, tapi menganggap bahwa seekor binatang yang pekak, seperti ULAR akan memahami, adalah tidak masuk akal serta amat karut sekali. Sama saja dengan menulis pesan kepada seekor kelawar, dan meninggalkannya di pintu rumah sehingga si kelawar akan membacakannya kemudian.

13 ] Air Tidak Dapat dicemari oleh Apa-apa Kekotoran

Hadith berikut ini menunjukkan amalan-amalan kebersihan yang buruk Nabi Muhammad dan pengikut-pengikutnya:

Sunan Abu Dawud Kitab 1, Nombor 0067:
Dilapurkankan oleh Abu Sa’id al-Khudri:

“Saya mendengar bahwa orang bertanya Nabi Allah (saw): ‘Air diambilkan untukmu dari perigi Buda’ah. Itu adalah salah satu perigi dimana mayat anjing, kain pembalut haid wanita dan najis manusia dibuang. Nabi Allah (saw) menjawab: Sesungguhnya air adalah murni dan tidak dicemar oleh apa-apa pun.”

Persoalan di sini bukan sahaja kesihatan, namun lebih kepada kurangnya pemahaman ilmiah dan sains kesihatan yang sebenar. Jelas bahawa saranan Islam diatas adalah jahil dan buta tentang hakikat bakteria, virus, dan kuman-kuman lain yang hidup dalam air. Kekotoran serta najis tubuh badan adalah penyebab utama air menjadi tercemar Escherichia coli (E. coli), bakteria yang biasanya terdapat dalam usus besar (kolon) yang boleh membunuh manusia bila termakan. Air yang tercemar mayat anjing atau pun cairan haid juga memudaratkan sama bahayanya.

Kesimpulan

Dalam zaman sains dan teknoloji yang sudah maju hari ini, umat Islam sedang terdesak mencari alasan-alasan menutupi kesilapan-kesilapan dan kejanggalan-kejanggalan saintifik jelas seperti yang terdapat di dalam al-Quran dan Hadis di atas. Para Muslimin cuba menyebutkan mujizat-mujizat ilmiah yang dinyatakan tanpa bukti di dalam Qur’an dan Hadis untuk mencuba buktikan dasar keilahian al-Qu’ran mereka. Dalam kajian singkat mengenai “ilmu Sains” Islam ini, pernyataan-pernyataan ini dengan jelas telah ditolak.Al-Qu’ran sendiri menyangkal sumber keilahiannya jika dapat dijumpai di dalamnya hanya satu perkara yang tidak benar, perselisihan atau kesilapan – Surah 4/82 :

“Tidakkah mereka memperhatikan al-Qu’ran? Kalau sekiranya, ia dari sisi lain Allah, nescaya mereka peroleh di dalamnya perselisihan yang banyak.”

Dari atas, sudah dihurai sekurang-kurangnya tiga-belas kesilapan. Lapan kesilapan daripada al-Quran dan lima daripada Hadith. Lapan daripada al-Quran itu termasuk juga perselisihan dengan ayat-ayat Quran sendiri. Ya, kami sudah memperhatikan dan mengkaji al-Qu’ran dengan berhati-hati, tetapi kami juga telah temui perselisihan diantara nas-nasnya sendiri. Bukan itu saja, malah Quran juga ada perselisihan ketara dengan fakta-fakta sains. Juga terdapat perselisihan nyata diantara al-Quran dengan Sejarah, dan juga perselisihannya dengan kebenaran secara amnya. Jelas tidak ada kekuatan ajaib atau ilahi yang memberikan nabi Muhammad pengetahuan ‘ilmu saintifik’. Malah, maklumat yang ditonjol-tonjolkan sebagai saintifik itu sudah terbukti sebagai sangat jahil, buta sejarah dan buta sains serta tidak memihak kepada kebenaran sama sekali! Sementara kaum Muslim mendebat bahwa pengetahuan ilmiah yang sudah maju dalam Qur’an itu adalah merupakan tanda dari keilahian asal mereka, pemikir-pemikir yang waras serta pakar-pakar sains dan tokoh-tokoh lain mendapati bahwa kesilapan-kesilapan fakta, perselisihan serta kekeliruan ilmiah yang banyak dan nyata itu menunjukkan kepada asalnya yang sesungguhnya daripada tangan dan kata-kata manusia sahaja tetapi mustahil daripada Tuhan.
Continue reading ‘Kepelikan-kepelikan Saintifik di dalam al-Quran dan Hadits’

Integrasi Alquran dan iptek terkini

•08/05/2011 • Leave a Comment

Teori Dentuman Besar (Big Bang) Dan Ajarannya Persoalan mengenai bagaimana alam semesta yang tanpa cacat ini mula-mula terbentuk, ke mana tujuannya, dan bagaimana cara kerja hukum-hukum yang menjaga keteraturan dan keseimbangan, sejak dulu merupakan topik yang menarik.

Pendapat kaum materialis yang berlaku selama beberapa abad hingga awal abad ke-20 menyatakan, bahwa alam semesta memiliki dimensi tak terbatas, tidak memiliki awal, dan akan tetap ada untuk selamanya. Menurut pandangan ini, yang disebut “model alam semesta yang statis”, alam semesta tidak memiliki awal maupun akhir.

Dengan memberikan dasar bagi filosofi materialis, pandangan ini menyangkal adanya Sang Pencipta, dengan menyatakan bahwa alam semesta ini adalah kumpulan materi yang konstan, stabil, dan tidak berubah-ubah. Namun, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi abad ke-20 menghancurkan konsep-konsep primitif seperti model alam semesta yang statis. Saat ini, pada awal abad ke-21, melalui sejumlah besar percobaan, pengamatan, dan perhitungan, fisika modern telah mencapai kesimpulan bahwa alam semesta memiliki awal, bahwa alam diciptakan dari ketiadaan dan dimulai oleh suatu ledakan besar.

Selain itu, berlawanan dengan pendapat kaum materialis, kesimpulan ini menyatakan bahwa alam semesta tidaklah stabil atau konstan, tetapi senantiasa bergerak, berubah, dan memuai. Saat ini, fakta-fakta tersebut telah diakui oleh dunia ilmu pengetahuan. Sekarang, marilah kita lihat bagaimana fakta-fakta yang sangat penting ini dijelaskan oleh ilmu pengetahuan.

“Semua yang berada di langit dan yang berada di bumi bertasbih kepada Allah (menyatakan kebesaran Allah). Dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Kepunyaan-Nyalah kerajaan langit dan bumi, Dia menghidupkan dan mematikan, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.” (Surat al-Hadid: 1-2)

Pemuaian Alam Semesta Pada tahun 1929, di observatorium Mount Wilson di California, seorang astronom Amerika bernama Edwin Hubble membuat salah satu temuan terpenting dalam sejarah astronomi. Ketika tengah mengamati bintang dengan teleskop raksasa, dia menemukan bahwa cahaya yang dipancarkan bintang-bintang bergeser ke ujung merah spektrum. Ia pun menemukan bahwa pergeseran ini terlihat lebih jelas jika bintangnya lebih jauh dari bumi. Temuan ini menggemparkan dunia ilmu pengetahuan. Berdasarkan hukum-hukum fisika yang diakui, spektrum sinar cahaya yang bergerak mendekati titik pengamatan akan cenderung ungu, sementara sinar cahaya yang bergerak menjauhi titik pengamatan akan cenderung merah. Pengamatan Hubble menunjukkan bahwa cahaya dari bintang-bintang cenderung ke arah warna merah. Ini berarti bahwa bintang-bintang tersebut senantiasa bergerak menjauhi kita.
Continue reading ‘Integrasi Alquran dan iptek terkini’

“Ilmu Sains” di dalam al-Quran dan Kejanggalannya

•08/05/2011 • Leave a Comment

Dewasa ini, ramai para Muslimin telah muncul dan mempelopori teori mereka bahawa dalam Quran itu kononnya ada banyak fakta-fakta dan mujizat saintifik. Banyak laman-laman web, buku-buku serta video telah dicipta orang-orang Islam yang cuba menonjolkan Islam itu sebenarnya berpunca dari Allah, kononnya disokong oleh hujah-hujah yang ‘tepat secara saintifik’ dalam al-Quran dan Hadith. Kebanyakan risalah mereka bermula dengan pernyataan seperti berikut :

“Suatu hal yang mengkagumkan ialah bagaimana al-Quran ‘menangani’ ilmu Sains. Quran yang diwahyukan dalam abad ketujuh kepada Muhammad(saw) mengandungi fakta-fakta saintifik ‘yang baru kini ditemui pada abad ini’. Ahli-ahli sains terkagum sahaja apabila mereka ditemukan dengan ketepatan dan kecocokan ayat-ayat al-Quran dengan penemuan sains moden.”

Rencana ini akan meneliti hujah diatas. Ia juga akan mengkaji dengan rapi, ayat-ayat al-Quran yang dipetik orang Muslim sebagai kononnya menyokong ‘mujizat saintifik’ mereka. Kajian ini juga akan meneliti dan membongkar banyak kejanggalan dan kepelikan saintifik yang terkandung di dalam Quran dan Hadis yang disegani dan amat malu disebut-sebut oleh umat Islam – kerana kejanggalannya dan juga kerana amat jauh sekali dari kebenaran!.

Lebih kurang 90 peratus daripada 1 bilion orang Islam pada hari ini terdiri dari kelompok Sunni. Kelompok yang terbesar selepas Sunni ialah puak Shi’ah. Oleh itu, makalah ini akan meneliti dan mengkaji ajaran dan tafsiran kelompok para Sunni, yang merupakan majoriti pengikut-pengikut Islam hari ini. Contohnya, Hadith yang diikuti puak Sunni hari ini adalah hanya diikuti dan diimani oleh ahli Sunni sahaja tetapi ditolak sebulat-bulatnya oleh kebanyakan puak-puak Islam lain yakni ahli Shi’ah, ‘Submitters’(‘Quran only’) dan ahli Sufi. Puak Islam Shi’ah, misalnya, memiliki koleksi-koleksi Hadith sahih mereka sendiri, dan hadith-hadith mereka tidak bersetuju dan menolak secara terus-terang dengan ‘Hadith Sahih Bukhari atau pun Muslim’ dan lain-lain ahadith. Sebenarnya, pada hari ini terdapat lebih daripada 100 JUTA orang yang bergelar Muslim tetapi mereka tidak menerima atau mempercayai koleksi ahadith orang-orang Sunni. Walaupun begitu, kebanyakan perbincangan dalam rencana ini akan menumpukan perhatiannya kepada fahaman dan tafsiran puak Sunni sahaja.

1 ] Ciptaan Bumi

Al-Quran menyebut dalam Surah 50 ayat 38 bahawa:

“Sesungguhnya telah Kami jadikan beberapa langit dan Bumi dan apa-apa yang diantara keduanya dalam enam hari dan Kami tiada merasa payah …”

Adalah satu hakikat sejarah bahawa nabi Muhammad telah bercampur-gaul dengan umat-umat Yahudi dan Kristian. Dan lagi satu hakikat ialah banyak daripada isi kandungan Quran itu diambil (induknya) daripada AlKitab umat Kristian dan Yahudi. Di nas ini kita diberitahu bahawa – sama seperti catatan dalam Buku Kejadian dalam Alkitab al-Mukkadas – Bumi telah dicipta dalam enam hari.

Para Muslim yang mencuba mencocokkan atau menyelaraskan ajaran al-Quran dengan Sains moden, mentafsirkan bahawa ‘Satu hari bagi Allah dan malaikatNya adalah bersamaan dengan 50,000 tahun’. Ini diambil dari surah 70 ayat 4. Jadi, mengikut hitungan matematik, para Muslim cuba menghujah bahawa Bumi telah dicipta dalam 300,000 tahun (6 hari x 50,000 tahun). Teori ini amatlah cetek lojiknya tetapi menarik. Ia menarik kerana perhitungan ini tidak didukung atau disokong oleh kajian Sains Moden! Menurut Sains Moden, ia telah memakan masa selama BEBERAPA BILION TAHUN untuk mencapai keadaan pada hari ini. Berbilion tahun telah berlalu sebelum wujudnya pepohon, dan beribu bilion lagi sebelum wujudnya binatang haiwan!

Surah 70 ayat 4 :

“Malaikat-malaikat dan roh naik kepadaNya dalam SEHARI yang lamanya LIMA PULUH RIBU Tahun.”

Ayat ini membawa lebih banyak masalah lagi bagi al-Quran, kerana ayat ini bertentangan secara langsung dengan ayat-ayat Quran lain. Misalnya Surah 32/5 dan surah 22/47 kedua-dua sebut bahawa :

“Sesungguhnya SEHARI disisi TUHAN-Mu seperti SERIBU Tahun dari apa yang kamu hitung.”

Jadi, jelaslah dapat dilihat percanggahan dan perselisihan dalam Quran – Sehari itu 50,000 tahun ATAU hanya 1,000 tahun?

Juga, untuk menyatakan bahawa Allah telah mengambil masa selama 300,000 tahun untuk mencipta Bumi merupakan satu PENGHINAAN kepada-Nya. Kerana Dia hanya boleh berkata : “Jadilah engkau” lalu jadilah ia (iaitu Bumi).

“Dia yang menciptakan langit dan BUMI; apabila Dia menghendaki mengadakan sesuatu Dia berkata: Jadilah engkau. Lalu jadilah ia.”

Surah 2 ay.117

Bukan sahaja teori Islam di atas ini bercanggah dengan Sains hari ini, malah ia bertentangan dan berselisihan dengan nas-nas Qurannya sendiri!

2 ] “Sains” Embriologi

Pada tahun 1982, Keith Moore, seorang profesor di Universiti Toronto, telah menulis sebuah buku berjudul : “The Developing Human, edisi ke3″. Di dalamnya Moore ceritakan kehairanannya dengan ‘cerita pertumbuhan embrio di dalam Quran’. Selepas itu, dia telah menulis lagi satu buku yang berjudul “Human Development as described in the Quran and Sunnah” yang amat gemari dipetik oleh ahli-ahli puak Sunni. Mereka ini merujuk kepada ayat Quran tersebut :

“Kemudian Kami jadikan dia air mani (yang disimpan) di dalam tempat yang kukuh. Kemudian mani itu kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan sepotong daging, lalu sepotong daging itu Kami jadikan tulang, lalu tulang itu Kami bungkus dengan daging, kemudian dia Kami ciptakan makhluk yang lain. Maka Maha suci Allah yang sebaik-baik menciptakan.”

Surah 23 ay.13,14

Di permukaannya, pernyataan ini kelihatan ‘ajaib’ untuk dibuat oleh seorang “Arab dari abad ketujuh”. Tetapi, apabila ayatnya dianalisa lebih lanjut dan dengan lebih teliti, terdapat penjelasan dan juga kesilapan yang ketara yang timbul bagi ayat tersebut. Mula-mula, kita boleh bertanya jika ayat itu adalah asli, dan kedua, adakah pernyataan itu tepat atau pun benar.

Ramai orang kagum dengan tersebutnya ‘air mani’ dalam ayat di atas. Tetapi ini bukanlah sesuatu yang istimewa! Jauh lebih lama sebelum timbulnya al-Quran, manusia sudah pun sedar akan wujudnya “Benih” yang keluar daripada buah zakar lelaki, semasa proses persetubuhan. Al-Kitab (Bible), satu Teks yang jauh lebih tua daripada Al-Quran, lebih awal lagi dari Quran telah menyebut tentang seorang lelaki yang dihukumi oleh Tuhan oleh sebab dia “membiarkan air maninya jatuh ke atas bumi”. Kejadian 38 : 9-10.

Seluruh cerita tentang pertumbuhan kehidupan manusia dalam al-Quran bukanlah cerita yang asli. Ahli-ahli Sunni cuba mempelopori teori mereka bahawa Muhammad telah mengajarinya sebelum ditemui ahli-ahli sains. Tetapi ahli-ahli Sunni ini malangnya sudah tersilap! Hujah-hujah mengenai pertumbuhan seorang bayi di dalam rahim seorang ibu sudah pun diajari oleh Aristotle 1,000 Tahun sebelum tercatitnya al-Quran! Sebenarnya, Aristotle telah menceritakan dengan tepatnya mengenai tali pusat (umbilical cord) serta fungsinya -sesuatu yang tidak disebut dalam Quran. Ini menunjukkan hakikat bahawa tokoh-tokoh dan ahli-ahli falsafah bukan Islam sudah mengenal dan menganalisa hal-hal saintifik jauh lebih awal daripada Muhammad dan lebih daripadanya. SETIAP sebutan pertumbuhan seorang manusia di dalam al-Quran mengikut teori-teori Roma dan Yunani yang sudah wujud jauh lebih awal lagi! Contohnya, ayat tersebut tentang air mani :

“Ia dijadikan dari air yang terpancar, yang keluar dari antara tulang punggung lelaki dan tulang dada…”

Surah 86:6,7

Kesilapan ayat ini amat jelas dan ketara! Dan ia juga meniru dan menciplak daripada teori-teori yang lebih awal lagi. Pertama, air mani tidak berasal “dari antara tulang punggung lelaki” jika begitu ertinya air mani berpunca daripada Buah Pinggang lelaki! Kami semua tahu hakikat air mani dibuat di dalam buah zakar (testicle) seorang lelaki. Tetapi orang sezaman dengan Muhammad – termasuk dia sendiri- jahil tentang hakikat tersebut! Sebelas abad sebelum munculnya Muhammad, seorang doktor Yunani bernama Hippocrates, menganjur teorinya bahawa air mani melalui buah pinggang sebelum sampai ke buah zakar lelaki. Teori air mani yang salah ini telah diterima tanpa disoal untuk berabad-abad lamanya.

Ada orang yang kata bahawa Muhammad tidak kenal orang-orang Rum atau Yunani. Tetapi, penduduk-penduduk tanah Arab sebelum kedatangan Islam, sudah pun bergaul dan berurusan dengan jajahan Byzantium, Syam, Mesir, Parsi dan juga Babylon. Terdapat juga ramai umat Yahudi dan Kristian yang telah bermastautin di sana. Umat-umat Yahudi dan Kristian ini sudah tentu kenal dan amat biasa dengan tamadun-tamadun Rum dan Yunani. Pada zaman Muhammad, umat Kristian sudah ada perhubungan dengan Rum. Yahudi pula ada pertalian dengan tamadun-tamadun di Babylon dan Parsi. Tidaklah mustahil, malah amat mudah sekali untuk konsep dan teori-teori tamadun-tamadun tersebut, termasuk teori pertumbuhan embrio yang silap itu, sampai kepada telinga Muhammad.

Akhir kata, mengimbas kembali kepada ayat-ayat Quran yang menyentuh pertumbuhan seorang bayi itu, saya akan akui bahawa itu juga adalah salah dan tidak masuk akal. Nas Quran berkata bahawa ‘segumpal darah itu Kami jadikan sepotong daging, lalu sepotong daging itu Kami jadikan tulang, lalu tulang itu Kami bungkus dengan daging’:Surah 23 ayat 13,14. Sebaliknya, hakikat Saintifik yang sebenar adalah tisu-tisu hidup yang bertumbuh terlebih dahulu, kemudian sahaja diikuti dengan pertumbuhan tulang yang akan semakin membesar dengan penambahan Kalsium bertahun-tahun selepas bayi itu dilahirkan. Jadi, ini menunjukkan satu daripada banyak kepelikan dan kesilapan ‘saintifik’ al-Quran.
Continue reading ‘“Ilmu Sains” di dalam al-Quran dan Kejanggalannya’

Mukjizat Sains Al-Quran

•08/05/2011 • Leave a Comment

Ayat-ayat kauniyah (yang berkenaan dengan alam atau kosmos) di dalam Al-Qur’ân dan disebutkan secara eksplisit, jumlahnya lebih dari ribuan ayat, ditambah ayat-ayat lain yang serupa denganya. Ayat–ayat kauniyah tersebut semuanya hampir berjumlah seperenam dari ayat Al-Qur’ân. Ayat-ayat tersebut tidak mungkin difahami secara terperinci dan mendalam hanya berdasarkan pemahaman sisi lingustiknya saja. Tetapi juga harus dibarengi dengan pengetahuan-pengetahuan saintifik modern, karena di sana ada beberapa kalimat dan makna yang tidak bisa dipahami maknanya kecuali oleh orang-orang yang benar-benar memahami disiplin ilmu dengan berbagai macam spesifikasinya. Dari sini akan bisa dipahami bahwa banyak sekali ayat-ayat Al-Qur’ân yang memberikan proyeksi pemahaman masa depan, semisal ayat dalam surat Al-An’âm ayat 67. Allah berfirman :

لِكُلِّ نَبَإٍ مُسْتَقَرٌّ وَسَوْفَ تَعْلَمُونَ(67)

“Untuk tiap-tiap berita (yang dibawa oleh rasul-rasul) ada (waktu) terjadinya dan kelak kamu akan mengetahui“. (al-An’âm: 67); dan juga firman Allah SWT dalam surat al-Naml ayat 93. Allah berfirman :

وَقُلْ الْحَمْدُ لِلَّهِ سَيُرِيكُمْ آيَاتِهِ فَتَعْرِفُونَهَا وَمَا رَبُّكَ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ(93)

”Dan katakanlah: Segala puji bagi Allah, Dia akan memperlihatkan kepadamu tanda-tanda kebesaran Nya, maka kamu akan mengetahuinya. Dan tuhanmu tiada lalali dari apa yang kamu kerjakan.” ( al-Naml: 93).

Dan ayat Al-Qur’ân yang berkaitan dengan agama terkonsentrasi ke dalam empat fondasi dasar: akidah, ibadah, akhlak dan mu’amalah yang masing-masing dari ayat tersebut diturunkan dengan konteks kalimat yang muhkamah (jelas), dimana dalil dan makna dari ayat tersebut sangatlah jelas dan tidak mengandung makna kecuali hanya satu saja, sedangkan ayat-ayat yang berkenaan dengan alam semesta atau kosmos, kebanyakan darinya diturunkan dalam bentuk yang mujmal (global) sebagai mukjizat, dimana pemahaman terhadap ayat tersebut masing-masing berbeda sesuai dengan masa, tempat dan zaman orang yang menafsirkan ayat tersebut. Hal ini didasarkan pada konteks, kondisi waktu serta tempatnya. Jika dilengkapi dengan ilmu pengetahuan tentang kosmos dan ilmu-ilmu yang berkenaan dengannya, maka makna-makna ayat tersebut akan dinamis, sejalan dengan perkembangan pengetahuan manusia dan tidak ada kontradiksi di dalamnya, sehingga ayat-ayat Al-Qur’ân akan selalu mendominasi pengetahuan manusia sebarapa pun perkembangan dan luasnya pengetahuan tersebut (Dan hal tersebut tidak akan ada kecuali memang merupakan firman Allah). Dari situ maka kenabian Muhammad saw dalam mensifati Al-Qur’ân, bahwa keagungan dan kebesaran Al-Qur’ân tiada akan pernah berakhir, betapapun banyaknya sanggahan mukjizat tersebut.

Karena itu benarlah anjuran Rab Azza Wajalla yang memerintahkan kita untuk mengahayati makna-makna ayat Al-Qur’ân. Dia berfirman:

أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللَّهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلَافًا كَثِيرًا(82)

”Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-Qur’ân ? Kalau kiranya Al-Qur’ân itu bukan dari sisi Allah tentulah mereka mendapatkan pertentangan yang banyak didalamnya.” (QS: al-Nisâ: 82). Dalam ayat lain Allah berfirman:

قَدْ جَاءَكُمْ بَصَائِرُ مِنْ رَبِّكُمْ فَمَنْ أَبْصَرَ فَلِنَفْسِهِ وَمَنْ عَمِيَ فَعَلَيْهَا وَمَا أَنَا عَلَيْكُمْ بِحَفِيظٍ(104)

”Sesungguhnya telah datang dari tuhanmu bukti-bukti yang terang , maka barang siapa melihat (kebenaran itu) , maka (manfaatnya) bagi dirinya sendiri, dan barangsiapa buta (tidak melihat kebenaran itu), maka kemudaratannya kembali kepadanya. Dan Aku sekali-kali bukanlah pemelihara kalian.” (QS. al-An’âm: 104).

Dalam ayat lain Allah berfirman:

”Ini adalah sebuah kitab yang kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayat Nya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran.

Firman-Nya yang lain:

انظُرْ كَيْفَ كَذَبُوا عَلَى أَنفُسِهِمْ وَضَلَّ عَنْهُمْ مَا كَانُوا يَفْتَرُونَ(24)

”Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-Qur’ân ataukah hati mereka terkunci?” (QS. Muhammad: 24).

Dalam hal ini Rasulullah saw bersabda: ”I’rabû al-Qur’ân wa-al-Tamisyû Ghar’ibâha.”

Mengi’rab Al-Qur’ân berarti mengetahui makna-maknanya. Dan yang dimaksud dengan kata wa-al-Tamisyû Ghar’ibâha dalam hadits tersebut adalah mengetahui segala sesuatu di dalam Al-Qur’ân yang maknanya masih misterius bagi umumnya pembaca, khususnya ayat-ayat dalam masalah kosmos yang pemahaman dalilnya senantiasa dinamis dan berkembang sejalan dengan dinamisme dan perkembangan pengetahuan manusia dari generasi kegenerasi. Hal tersebut dikarenakan sederhanaya pemahaman manusia pada waktu diturunkannya Al-Qur’ân, disamping karena watak Al-Qur’ân yang senantiasa berdialektika dengan zaman, dalam artian bahwa perkembangan pengetahuan dan kesejahteraan manusia akan senantiasa bertambah dengan pemahaman manusia terhadap kosmos dan sunnatullah yang berlaku di dalamnya (kosmos).

Ayat-ayat yang berkenaan dengan kosmos dalam Kitabullâh menunjukkan betapa banyaknya kebenaran-kebenaran komos, wujud dan juga bentuknya, yang merupakan bentuk dari ayat-ayat yang tidak akan bisa difahami secara terperinci dan mendalam kalau hanya mengacu pada aspek lingustik saja. Tetapi dalam memahami ayat-ayat tersebut, dibutuhkan juga aspek-aspek ilmiah yang memadai dalam berbagai spesifikasinya sebagaimana yang telah dijelaskan oleh Allah dalam ayat-ayat Al-Qur’ân, sehingga dari situ bisa didapatkan pemahaman yang benar sebagaimana yang difirmankan oleh Allah SWT:

لَكِنْ اللَّهُ يَشْهَدُ بِمَا أَنزَلَ إِلَيْكَ أَنزَلَهُ بِعِلْمِهِ وَالْمَلَائِكَةُ يَشْهَدُونَ وَكَفَى بِاللَّهِ شَهِيدًا(166)

”(Mereka tidak mau mengakui yang diturunkan kepadamu itu), tetapi Allah mehakui Al-Qur’ân yang diturunkan-Nya kepadamu. Allah menurunkannya dengan ilmu-Nya; dan malaikat-malaikat pun menjadi saksi (pula). Cukuplah Allah yang mengetahui.” (al-Nisâ: 166).

Allah juga berfirman:

قُلْ أَيُّ شَيْءٍ أَكْبَرُ شَهَادَةً قُلْ اللَّهُ شَهِيدٌ بَيْنِي وَبَيْنَكُمْ وَأُوحِيَ إِلَيَّ هَذَا الْقُرْآنُ لِأُنذِرَكُمْ بِهِ وَمَنْ بَلَغَ أَئِنَّكُمْ لَتَشْهَدُونَ أَنَّ مَعَ اللَّهِ آلِهَةً أُخْرَى قُلْ لَا أَشْهَدُ قُلْ إِنَّمَا هُوَ إِلَهٌ وَاحِدٌ وَإِنَّنِي بَرِيءٌ مِمَّا تُشْرِكُونَ(19)

“Katakanlah: “Siapakah yang lebih kuat persaksiannya ? Katakanlah: “Allah saksi antara aku dan kamu. Dan Al Qur’an ini diwahyukan kepadaku supaya dengannya aku memberi peringatan kepadamu dan kepada orang-orang yang sampai Al-Qur’ân (kepadanya). Apakah sesungguhnya kamu mengakui bahwa ada tuhan-tuhan yang lain di samping Allah ? Katakanlah: aku tidak mengakui. Katakanlah sesunggunhnya Dia adalah Tuhan yang satu dan aku terbebasa atas apa yang merteka sekutukan”. (QS: al-An’âm: 19).

قُلْ لَا أَشْهَدُ قُلْ إِنَّمَا هُوَ إِلَهٌ وَاحِدٌ وَإِنَّنِي بَرِيءٌ مِمَّا تُشْرِكُونَ(19)

Allah berfirman dalm ayat lain:

وَيَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَضُرُّهُمْ وَلَا يَنْفَعُهُمْ وَيَقُولُونَ هَؤُلَاءِ شُفَعَاؤُنَا عِنْدَ اللَّهِ قُلْ أَتُنَبِّئُونَ اللَّهَ بِمَا لَا يَعْلَمُ فِي السَّمَاوَاتِ وَلَا فِي الْأَرْضِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَمَّا يُشْرِكُونَ(18)

”Dan mereka menyembah selain daripada Allah apa yang tidak dapat mendatangkan kemudharatan kepada mereka dan tidak pula kemanfa’atan, dan mereka berkata: “Mereka itu adalah pemberi syafa’at kepada kami di sisi Allah”. Katakanlah: “Apakah kamu mengabarkan kepada Allah apa yang tidak diketahui-Nya di langit dan tidak (pula) di bumi” Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari apa yang mereka mempersekutukan (itu).” (QS. Yûnus:18)

Allah juga berfirman:

فَإِلَّمْ يَسْتَجِيبُوا لَكُمْ فَاعْلَمُوا أَنَّمَا أُنزِلَ بِعِلْمِ اللَّهِ وَأَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ فَهَلْ أَنْتُمْ مُسْلِمُونَ(14)

“Jika mereka yang kamu seru itu tidak menerima seruanmu (ajakanmu) itu maka ketahuilah, sesungguhnya Al-Qur’ân itu diturunkan dengan ilmu Allah, dan bahwasannya tidak ada Tuhan selain Dia, maka maukah kamu berserah diri (kepada Allah)? (QS. Hûd:14)

Allah berfirman kepada Nabi Muhammad :

قُلْ أَنزَلَهُ الَّذِي يَعْلَمُ السِّرَّ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ إِنَّهُ كَانَ غَفُورًا رَحِيمًا(6)

” Katakanlah: “Al-Qur’ân itu diturunkan oleh (Allah) yang mengetahui rahasia di langit dan di bumi. Sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. al-Furqân: 6).

Allah berfirman kepada Nabi Muhammad:

وَقُلْ الْحَمْدُ لِلَّهِ سَيُرِيكُمْ آيَاتِهِ فَتَعْرِفُونَهَا وَمَا رَبُّكَ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ(93)

”Dan katakanlah: “Segala puji bagi Allah, Dia akan memperlihatkan kepadamu tanda-tanda kebesaran-Nya, maka kamuakan mengetahuinya. Dan Tuhanmu tiada lalai dari apa yang kamu kerjakan.” (al-Naml: 93).

Allah berfirman :

أَلَمْ تَرَى أَنَّ اللَّهَ أَنْزَلَ مِنْ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجْنَا بِهِ ثَمَرَاتٍ مُخْتَلِفًا أَلْوَانُهَا وَمِنْ الْجِبَالِ جُدَدٌ بِيضٌ وَحُمْرٌ مُخْتَلِفٌ أَلْوَانُهَا وَغَرَابِيبُ سُودٌ(27)وَمِنْ النَّاسِ وَالدَّوَابِّ وَالْأَنْعَامِ مُخْتَلِفٌ أَلْوَانُهُ كَذَلِكَ إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ غَفُورٌ(28)

“Tidakkah kamu melihat bahwasannya Allah menurunkan hujan dari langit, lalu Kami hasilkan dengan hujan itu buah-buahan yang beraneka macam jenisnya? Dan di antara gunung-gunung itu ada garis-garis putih dan merah yang beraneka macam warnanya dan ada (pula) yang hitam pekat. Dan demikian (pula) di antara manusia, binatang-binatang melata dan binatang-binatang ternak ada yang bermacam-macam warnanya (dan je-nisnya). Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah orang-oramng yang berilmu. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Ma-ha Pengampun.” (QS. Fâthir: 27-28).

Allah berfirman :

وَلَوْ بَسَطَ اللَّهُ الرِّزْقَ لِعِبَادِهِ لَبَغَوْا فِي الْأَرْضِ وَلَكِنْ يُنَزِّلُ بِقَدَرٍ مَا يَشَاءُ إِنَّهُ بِعِبَادِهِ خَبِيرٌ بَصِيرٌ(27)وَهُوَ الَّذِي يُنَزِّلُ الْغَيْثَ مِنْ بَعْدِ مَا قَنَطُوا وَيَنشُرُ رَحْمَتَهُ وَهُوَ الْوَلِيُّ الْحَمِيدُ(28)

”Dan jikalau Allah melapangkan rezki kepada hamba-hamba-Nya tentulah mereka akan melampaui batas di muka bumi, tetapi Allah menurunkan apa yang dikehendaki-Nya dengan ukuran. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui (keadaan) hamba-hamba-Nya lagi Maha Melihat. Dan Dialah Yang menurunkan hujan sesudah mereka berputus asa dan menyebarkan rahmat-Nya. Dan Dialah Yang Maha Pelindung lagi Maha Terpuji. Di antara (ayat-ayat) tanda-tanda-Nya ialah menciptakan langit dan bumi dan makhluk-makhluk yang melata Yang Dia sebarkan pada keduanya. Dan Dia Maha Kuasa mengumpulkan semuanya apabila dikehendaki-Nya.” (QS. al-syûrâ: 27-29).

Ayat-ayat tersebut merupakan ayat-ayat yang menerangkan tentang konsep kosmos atau alam semesta. Dari sini maka perhatian saya terhadap ayat-ayat yang berkenaan dengan kosmos dalam Al-Qur’âan makin bertambah.Karenanya, saya berjanji untuk selalu berusaha merealisasikan segala sesuatu yang telah Allah karuniakan kepada manusia yang lemah dan mempunyai ilmu pengetahuan yang terbatas, tentang sisi-sisi sains yang berkenaan dengan kosmos dengan landasan petunjuk ilmiah dalam ayat-ayat Al-Qur’an, dan menampakkan mukjizat dari ayat-ayat tersebut yaitu dengan menjelaskan kemukjizatan ilmiah yang ada di dalamnya. Dalam artian sebagaimana telah diuraikan di atas, bahwa Al-Qur’ân telah menunjukkan berbagai macam pertanda tentang kebenaran-kebenaran kosmos yang sama sekali belum ditemukan oleh siapapun atau ilmu pengetahuan apapun tentang hal tersebut, pada waktu diturunkannya Al-Qur’ân. Bahkan berabad-abad sesudah diturunkannya Al-Qur’ân, kebenaran-kebenaran kosmos yang telah ditunjukan oleh Al-Qur’ân sejak dahulu dengan jelas dan rinci sejak sebelum seribu empat ratus tahun silam belum juga bisa ditemukan oleh manusia. Manusia tidak bisa menemukan sesuatu apapun yang berharga kecuali sesudah usaha yang begitu lama dan dilakukan oleh ribuan ilmuwan dan memakan waktu ratusan tahun, dan gambaran yang benar ini tidak pernah mengkristal pada diri mereka, kecuali sejak sepuluh tahun terakhir ini.

Usaha saya dalam rangka menjelaskan sisi dari berbagai macam sisi kemukjizatan Al-Qur’ân adalah merupakan usaha manusia biasa dimana dalam usaha manusia kelebihan dan kekurangan adalah sesuatu yang biasa. Akan tetapi mudah-mudahan usaha ini bisa menjadi suatu amalan yang ikhlas hanya karena Allah semata dan untuk mengfungsikan Al-Qur’ân yang merupakan kitab suci penutup dan diwahyukan untuk Nabi penutup, Muhammad saw. Sebagaimana saya berharap mudah-mudahan apa yang saya lakukan bisa bermanfaat bagi para pembaca Al-Qur’ân baik itu dari kalangan orang-orang Islam sendiri maupun dari kalangan non-Muslim dan saya berharap semoga dengan usaha ini Allah memberikan maaf dan ridla-Nya, karena sesungguhnya Dia adalah dzat yang maha mulia.

Apabila dalam usaha saya ini saya menemukan kebenaran, itu tidak lain dikarenakan hidayah dan petunjuk Allah dan apabila dalam usaha ini saya mendapatkan kesalahan hal itu murni merupakan kesalahan yang datang dari diri saya sendiri dan sesungguhnya Allah Insyallah akan mengampuni keterbatasan dan keluputan saya, karena Dia adalah Dzat pengampun segala dosa-dosa manusia.Kecuali dosa-dosa orang-orang yang menyekutukan-Nya, karena hal tersebut merupakan syirik yang maha besar dan Ia adlah pengampun dosa-dosa selain itu-Syirik- bagi siapa saja yang Dia kehendaki.

Sesudah peradaban Islam membawa bendera ilmu pengetahuan ilmiah, ekpertis, dan pemikiran diberbagai sisi kehidupan selama sepuluh abad atau lebih sesudah peradaban Islam colapse alias mengalami kejumudan, maka tindakan amoral dan asusial kembali menguasai kehidupan pemuda-pemudi kita yang sampai saat ini masih meraba-raba dan mencari cara untuk meng-counter serangan globalisasi yang sedemikian rupa diagendakan oleh negara-negara Barat terhadap negara-negara dunia ketiga-secara umum-dan negara-negara Arab-Islam secara khusus dengan mengatasnamakan institusi internasional yang sesat dan menyesatkan. Maka hal tersebut tentu saja menimbulkan perpecahan keluarga dan pelecehan terhadap wanita, sehingga berimbas pada kerusakan masyarakat dan terjauhnya mereka dari agama yang benar serta bertambahnya angka kriminalitas, pecandu narkoba, deviasi sosial, krisis mentalitas, pembunuhan dengan sengaja dan juga bunuh diri (suicide).

Dan tidak ada penyelesain dari semua deretan krisis memilukan tersebut kecuali dengan kembali kepada Kitabullah yang orisinalitasnya terjaga sesuai dengan bahasa ketika Al-Qur’ân tersebut diwahyukan. Yaitu, bahasa Arab, yang dijaga oleh Allah kalimat demi kalimat dan huruf demi huruf, dan tidak mungkin bagi akal untuk merubahnya dengan membuat-buat semacam dengannya atau memberikan deviasi di dalam Al-Qur’ân itu sendiri. Ditemukan pada setiap permasalahan di dalam Al-Qur’ân yang membuktikan bahwasannya ia adalah kitabullah yang maha pencipta, yang tidak akan ada di dalam Al-Qur’ân satupun kebatilan yang datang dari kekuasaan–Nya. Sesungguhnya Al-Qur’ân adalah mukjizat dalam setiap penjelasan, isi dan setiap sisi yang terkandung di dalamnya.
Continue reading ‘Mukjizat Sains Al-Quran’

Integrasi Sains dan Al-Qur’an

•08/05/2011 • Leave a Comment

Suatu ketika Muhammad berkata: “Setiap anak yang baru lahir, adalah dalam keadaan suci, tidak berdosa maka orang tuannyalah yang menjadikan anak itu menjadi Yahudi, Nasrani, dan Majusi” (H.R. bukhari Muslim). Pengertiannya bahwa pada dasarnya anak didik yang akan masuk melalui sebuah system pendidikan tertentu adalah bersifat “neutral” laksana kertas putih tergantung tulisan apa yang akan dicoretkan di atasnya. Hadist ini sudah mengidentifikasikan perlunya suatu kurikulum yang memadai bagi terjaminnya mutu manusia yang diproses di dalamnya secara komphrehenship terpadu antara batin dan jasmani, antara inteletual dan spiritual, antara kebutuhan materi dan kebutuhan kerohanian, antara masa depan dan masa kini, dan seterusnya. Maka atas dasar sinyalemen tersebut sebaiknya norma-norma religi (yang mengandung kebenaran hakiki) merupakan jantung dari sebuah system pendidikan khususnya di Indonesia dimana masyarakatnya masih mempercayai bahwa agama merupakan kebutuhan azazi manusia (ingat di barat mereka sudah tak peduli dengan norma itu disebut sekuler).

Kebenaran pada hakekatnya merupakan sesuatu nilai yang senantiasa dicari manusia dalam rangka untuk mendapatkan kuwalitas hidup seperti rasa damai, kemudahan hidup, keadilan, persamaan hak, dan sebagainya. Untuk mewujudkan hal tersebut berbagai usaha telah banyak dilakukan manusia sejalan dengan berkembangnya kebudayaan manusia itu sendiri, mulai dari manusia tak mampu menciptakan teknologi (primitive) sampai saat ini dengan teknologi yang demikian canggih (modern). Kemajuan yang demikian cepat tersebut tak lepas dari peranan adanya kebenaran yang diciptakan oleh apa yang disebut dengan science yang kemudian mampu menciptakan teknologi itu sendiri, khususnya hard technology (kedokteran, pertanian, keteknikan, dsb). Kemajuan yang demikian pesat yang dikembangkan oleh ilmu eksakta tersebut nampaknya telah menginduksi bidang-bidang sosial untuk menciptakan teknologi sejenis dalam bidang sosial yang disebut sebagai soft technology (ekonomi, sosial, politik, dsb). Dalam perjalanannya kedua bidang yang untuk mendapatkan tingkat kebenarannya tersebut sekalipun masih berada dalam dimensi science, namun seringkali mewujudkan paradigma yang berbeda dalam mewujudkan dirinya. Hal ini tidaklah mengherankan karena khususnya dalam bidang sosial, tergantung aliran (madzab) mana yang diikutinya, sehingga seringkali terjadi didapatnya nilai kebenaran yang saling tubruk (antagonistik). Munculnya dinamika masyarakat yang seringkali terjadi collaps suatu bangsa adalah sebagai akibat dari adanya adopsi soft technology tertentu dalam masyarakat atau bangsa tersebut, yang ternyata belum tentu sesuai dengan budayanya baik dalam hal yang menyangkut filosofis pemikiran, tabiat atau karakter, bahkan ketersedian pranata sosial yang harus ada untuk bisa dioperasikannya sebuah teknologi sosial. Korban lain dari salah pilih terhadap sebuah teknologi adalah kemajuan science itu sendiri menjadi terhenti, sehingga bangsa atau masyarakat tersebut akan stagnant dibandingkan bangsa lain, dan akhirnya ia hanya menjadi konsumen produksi teknologi bangsa-bangsa lain dengan konsekwensi jangka panjang mengingat teknologi yang sudah dijual ke pasar akan diganti teknologi lain yang lebih menarik demi terciptanya pangsa pasar yang baru.

Dengan alasan tersebut di atas maka menjadi jelaslah bahwa seberapa tingginya sebuah nilai kebenaran yang diproduksi oleh science tetap ada keterbatasannya atau kekurangannya atau dengan kata lain tak akan mampu mendapatkan kebenaran 100 persen. Dengan demikian selama ini kita telah hidup dalam sebuah zaman dengan menggunakan sebuah alat yang disebut science tersebut yang diketahui tak akan pernah sempurna dalam memecahkan problema atau kepentingan hajat hidup manusia. Tingkat kesalahan tersebut akan semakin besar manakala kita mengembangkan sebuah teknologi lunak (ekonomi, sosial, hukum, dll) mengingat sulitnya melakukan identifikasi variable yang menjadi kunci untuk berjalannya sebuah teknologi, bahkan banyak kasus menunjukkan hasil yang negative setelah teknologi lunak tersebut diintroduksikan karena tidak diketahuinya dengan jelas system yang berjalan secara nyata dalam masyarakat. Kalau hal tersebut kita teruskan tanpa mau melakukan evaluasi dari kegagalan dan ketidak sesuaian masa yang lalu maka tentu akan menjadikan bertumpuknya berbagai permasalahan sosial yang semakin ruwet di masa depan, karena sebuah teknologi sosial bilamana telah diadopsi suatu masyarakat akan sulit ditarik kembali untuk diganti yang lain dibandingkan teknologi keras yang mudah digonta-ganti.

Dalam rangka menjembatani kesenjangan ketidak mampuan science untuk mendapatkan kebenaraan hakiki tentang sesuatu nilai tertentu, maka perangkat lain yang selama ini sudah ada dalam masyarakat dimanapun mereka berada, yakni dikenal dengan istilah religi atau agama perlu dioptimalkan peranannya. Salah satu religi yang mampu membimbing dan memberikan informasi tentang bagaimana seharusnya manusia mengelola diri dan lingkungannya sesuai dengan peruntukannya adalah Islam, yang dikodifikasikan melalui Al-qur’an dan As-sunnah. Sampai detik ini kedua sumber kebenaran tersebut belum banyak dimanfaatkan manusia abad modern untuk meningkatkan kuwalitas hidupnya, sementara para pemeluknya (kaum muslimin) hanya mampu mengadopsi nilai-nilai yang bersifat penyembahan (ubudiyah) berupa ritual yang ternyata belum berdampak positif pada kehidupan sosial bermasyarakat. Seperti halnya science, Islam bersifat terbuka dan dapat diakses oleh siapa saja untuk mendapatkan nilai kebenaran yang lebih tinggi yang selama ini vacant tak terisi oleh science. Dengan kata lain Islam dapat dijadikan sebagai tools untuk memperbaiki kesalahan (
error) science sekaligus membimbingnya kearah yang benar, sebagai kebenaran religi yang bersifat mutlak (absolute). Pengertian absolute disini hendaknya dibedakan dengan istilah dogmatis yang selama ini dipahami oleh sebagian besar masyarakat termasuk juga kaum intelektual, sehingga memberikan stigma bahwa agama atau kebenaran religi adalah sesuatu yang tak boleh diganggu-gugat oleh tangan manusia (untouchable), dan harap diterima apa adanya .

Kesenjangan pemahaman demikian tidak akan pernah ada habisnya karena memang berasal dari premis logika yang dikembangkannya salah (logika bengkok = sesat pikir). Logika tersebut harus diluruskan dengan dua cara, yakni: (1) menjadikan sumber wahyu yang selama ini menjadi referensi kebenaran religi, sebagai informasi kebenaran untuk diteliti secara deduksi khususnya untuk mengembangkan IPTEK lunak; (2) melakukan eksplorasi terhadap teori, dalil, aksioma, dan data empiris (induksi) di lapangan terhadap sumber wahyu dan dikaji secara berdampingan dengan sumber science untuk mendapatkan overlay kebenaran keduanya. Dengan cara ini peranan agama atau religi khususnya Islam akan semakin terasa sebagai kebutuhan yang amat menyenangkan untuk digunakan dalam keseharian masyarakat, karena mereka mendaptkan apa yang jadi hajat hidupnya didunia ini; sehingga berIslamnya seseorang bukan lagi sebuah keterpaksaan dalam sebuah dogma yang mati-beku.

Sistem pendidikani dengan nama Interdisplin Sains dalam Islam (Inter-discipline Sciences in Islam) sudah waktunya dikembangkan dalam abad modern ini sebagai proptotipe kebangkitan peradaban baru yang akan menggeser peradaban saat ini yang menurut hemat saya sudah diambang kebangkrutan dilihat dari berbagiindikator fisik dan non fisik. Dengan system pendidikan yang baru dimana kurikulum yang diapaket merupakan penyatuan utuh antara nilai wahyu dan alam raya maka diharapkan para alumninya mampu menjabarkan kaedah-kaedah sains dan religi dalam bentuk cara berfikir dan tingkah laku (akhlaq) secara terpadu (integrated) dan menyeluruh (holyistic) di masyarakat sehingga dimasa depan terciptalah tatanan masyarakat yang lebih baik.
Continue reading ‘Integrasi Sains dan Al-Qur’an’

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.